Home / Kegiatan / Makalah Deputi I BNPT
Narasumber

Makalah Deputi I BNPT

Narasumber
Narasumber

Sinergitas Pemerintah dan Tokoh Agama dalam Pencegahan Paham ISIS[1]

 

Oleh : Agus SB

Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)

 

 

Profil ISIS: Dari Kekuatan Milisi Nasional Hingga Teror Global

Setelah al-Qaeda, ISIS merupakan salah satu kelompok terorisme yang telah mengejutkan dunia dengan aksi-aksi brutal dan mampu menjaring pengaruh besar dari beberapa negara. Apa itu ISIS? ISIS pada awalnya merupakan kekuatan milisi nasional yang tidak puas dengan pemerintahan pasca Saddam Hussien yang dikuasai kelompok Syiah. Zarqawi adalah pendiri awal gerakan ini yang jauh sebelumnya telah berbaiat dengan Osama dan menyatakan diri berafiliasi dengan al-Qaeda atau AQI (Al-Qaeda of Iraq) sebelum akhirnya berubah menjadi Islamic State of Iraq ketika dipimpin Abu Bakar al-Baghdady. Gerakan ini hanya beroperasi di Irak, namun ketika muncul konflik oposisi di Suriah, gerakan ini memanfaatkan kekisruhan dgn memperlebar kawasan menjadi ISIS/ISIL. Dengan penaklukan Mosul yang sempat menggemparkan dunia, Juni 2014 mereka mendeklarasikan IS (Islamic State).

Pada perkembangannya ISIS telah memberikan pengaruh ke  tokoh-tokoh radikal di Asia Tengah seperti Kyrgistan, Tajikistan dan Turkmenistan. Beberapa tokoh Taliban di Pakistan juga sudah bergabung dengan IS. Terakhir kelompok teroris Boko Haram juga telah menyatakan diri berbaiat pada ISIS. Tidak hanya di Timur Tengah ISIS juga telah merambah anak-anak muda Eropa dan Amerika melalui penyebaran media Ash Shabaab. Di Indonesia Pengaruh IS ke Indonesia melalui tokoh dan kelompok radikal teroris lama. Pada Oktober 2014 sejak 2011 diperkirakan 15,000 orang dari belahan dunia telah bergabung ke ISIS.

Secara ideologis ISIS memiliki kesamaan keyakinan dengan al-Qaeda yang menganut paham takfiry dan perjuangan menegakkan khalifah Islam dengan kekerasan. Namun, perbedaannya dengan al-Qaeda mereka menempatkan Barat dan sekutu sebagai musuh, ISIS menempatkan kalangan/kelompok yang menghalangi perjuangannya baik Barat, Syiah, bahkan Sunni sebagai musuh. Al-Qaeda melalui Osama tidak pernah menjadi kepala negara atau diangkat menjadi kepala negara, ABB melalui ISIS telah mendeklarasikan negara dan mengangkat dirinya sebagai khalifah.  ISIS saat ini telah menjadi magnet baru bagi pejuang-pejuang asing (foreign terrorist fighter) yang mereka klaim mujahidun li nashrti al-islam wa al-muslimin karena sudah memiliki wilayah resmi layaknya negara sendiri ( di Irak : Falluja, Kirkuk, Ramadi hingga Mosul, di Suriah: A’zaz, hingga wilayah Bukmal).

 

Pola Penyebaran dan Ancaman ISIS di Indonesia 

Penyebaran ISIS di Indonesia cukup massif karena beberapa tokoh radikal yang berpengaruh telah menyatakan diri bergabung ke gerakan ini seperti ABB, Oman Abdurrahman dan Santoso. Di samping itu beberapa kelompok radikal lama juga banyak mendeklarasikan diri mendukung gerakan ISIS seperti Mujahidin Indonesia Timur, Jamaah Ansharut Tauhid, Jama’ah Islamiyah, Forum Aktivis Syariat Islam, Awhid wal Jihad, Forum Pendukung Daulah, Asybal Tauhid Indonesia, Mimbar Tauhid wal Jihad, KUIB (Bekasi) dan masih banyak yang lain dalam bentuk nama yang berubah-rubah. Dari gerakan ini banyak ditemukan para pejuang asing yang telah bergabung ke ISIS. Bahkan untuk pejuang dari Indonesia pada Oktober 2014, dibentuk IS Melayu “Katibah Liddaulah” di suriah oleh Bachrumsyah & Abu Jandal yg menampung  warga Indonesia dan Malaysia yang diperkirakan jumlah 100 orang.

Selain menggunakan penyebaran langsung, ISIS di merupakan gerakan yang sangat pandai memanfaatkan media internet sebagai media propaganda. ISIS merupakan salah satu gerakan teroris yang mampu memanfaatkan media sosial sebagai media propaganda sekaligus rekuritmen keanggotaan. Untuk konteks di Indonesia hingga Maret 2015 kicauan tentang ISIS dari Indonesia berkontribusi 20% dari total tweet dunia (112.075 /dunia 21.722 /Indonesia). Video pertama muncul pada 31 Juli di Youtube mengajak warga Indonesia bergabung dengan ISIS. Propaganda dilanjutkan dengan video lain yang  berisi ancama ISIS terhadap TNI Jend Muldoko, Kapolri, Baser dan seluruh bangsa Indonesai, akan membantai orang orang yang tidak sepaham dengan mereka dan masih ada contoh-contoh lain pola propaganda ISIS di Indonesia.

 

Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahan Terorisme

Dalam pengalaman di Indonesia, upaya penanggulangan terorisme harus menitikberatkan pada pelibatan seluruh komponen bangsa terlebih aspek pencegahan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2010 sebagaimana telah diubah dengan Perpres No. 12 Tahun 2012 tentang Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).BNPT memiliki kewenangan untuk menyusun dan mengeluarkan kebijakan, strategi, sekaligus menjadi koordinator dalam bidang pencegahan, perlindungan, deradikalisasi (soft approach), penindakan (hard approach), penyiapan kesiapsiagaan nasional, serta kerjasama internasional.4 Dalam hal ini, pendekatan yang ditekankan oleh BNPT untuk menanggulangi terorisme adalah pendekatan persuasif (soft approach) yaitu kebijakan pencegahan yang meliputi bidang pencegahan, perlindungan dan deradikalisasi.

BNPT memiliki kewenangan untuk menyusun dan mengeluarkan kebijakan, strategi, sekaligus menjadi koordinator dalam bidang pencegahan, perlindungan, deradikalisasi, (soft approach), penindakan (hard approach), penyiapan kesiapsiagaan nasional, serta kerjasama internasional. Sejalan dengan hal tersebut, di bidang pencegahan BNPT melakukan dua strategi pencegahan. Strategi pertama yaitu deradikalisasi yang ditujukan kepada kelompok inti dan militan dengan melakukan sinergi bersama tokoh agama, para pakar akademisi dan unsur terkait lainnya. Strategi kedua yaitu kontra radikalisasi/ penangkalan ideologi yang dilakukan kepada seluruh elemen masyarakat, pelatihan anti radikal-terorisme kepada Ormas serta Training of Trainer (ToT) kepada sivitas akademika di perguruan tinggi, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk menguatkan kewaspadaan dini dan daya tahan masyarakat terhadap penyebaran paham radikal terorisme di tengah masyarakat baik melalui propaganda online maupun offline.

 

Peran Tokoh Agama dalam Upaya Pencegahan

Salah satu bentuk pelibatan tersebut adalah pemberdayaan para tokoh agama dalam hal ini imam masjid. Posisi imam masjid menempati posisi paling strategis dalam upaya pencegahan terorisme. Masjid dalam beberapa tahun belakangan kerap dikatakan sebagai arena rentan bagi penyebaran paham radikal terorisme. Salah satu survey yang dilakukan CSRC UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2008-2009 terkait pemetaan Ideologi Masjid-Masjid di DKI Jakarta menunjukkan adanya tingkat radikalisme yang masih cukup tinggi. Walaupun persepsi jihad melawan kaum non muslim masih sebesar 26 persen, tetapi keinginan Islam wajib memperjuangkan khilafah masih relatif tinggi sebesar 32 persen. Salah satu yang juga cukup tinggi adalah keinginan menegakkan negara Islam dengan prosentase 45 persen.

Penelitian tersebut walaupun sudah relatif lama tetapi menjadi salah satu gambaran bagaimana lingkungan masjid masih begitu rentan dalam pemahaman radikal keagamaan. Karena itulah, pemberdayaan imam masjid dalam rangka pencegahan terorisme menjadi sangat penting. Narasi kekerasan dan terorisme yang kerap menggunakan bahasa agama harus mampu dilawan dengan narasi yang seimbang berdasarkan dalil-dalil agama pula.

Sebenarnya secara tegas Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa pada tahun 2004 tentang terorisme. Dalam fatwa tersebut dengan tegas MUI memberikan fatwa haram terhadap tindakan terorisme. Terkait masalah ISIS, Forum Ukhuwah Islamiyah MUI telah mengeluarkan Pernyataan Sikap pada Agustus 2014 yang menyatakan Islamic State of Irak and Syam (ISIS), adalah gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam di Irak dan Syria namun tidak mengedepankan watak Islam yang rahmatan lil ’alamin (rahmat bagi alam semesta). MUI juga dengan tegas Ormas-ormas dan lembaga-lembaga Islam di Indonesia menolak keberadaan gerakan ISIS di Indonesia yang dinilai sangat potensial memecah belah persatuan umat Islam dan menggoyahkan NKRI berdasarkan Pancasila serta mendukung langkah cepat dan tegas pemerintah untuk melarang gerakan ISIS di Indonesia.

Apa yang sangat penting diharapkan dari para tokoh agama dan imam masjid adalah upaya memberikan pelurusan dan penyeimbangan perspektif keagamaan kepada masyarakat terkait provokasi dan propaganda yang disebar oleh kelompok radikal terorisme dan ISIS. Para tokoh agama harus selalu membentengi keyakinan umat dari berbagai provokasi, hasutan dan pola rekruitmen teroris di lingkungan masyarakat khususnya di lingkungan rumah ibadah, serta terlibat aktif dalam meluruskan pemahaman radikal dan kekerasan dengan memberikan pencerahan pengetahuan keagamaan terhadap masyarakat  baik melalui media pengajian, dakwah, tulisan dan kampanye di dunia maya.

 

Penutup

Terorisme merupakan tindakan kejahatan yang mempunyai akar dan jaringan kompleks serta indoktrinasi ideologis keagamaan yang sangat provokatif. Karena itulah, pencegahan terorisme tidak hanya bisa didekati dengan pendekatan kelembagaan melalui penegakan hukum semata. Keterlibatan komunitas masyarakat terutama tokoh agama dalam mencegah terorisme menjadi sangat penting dalam memberikan narasi-narasi keagamaan yang damai dan relevan dengan wawasan kebangsaan. Mari bersama mencegah terorisme.

 

“Bersama Cegah Terorisme”

 

[1] Disampaikan pada Acara Dialog Pencegahan Paham ISIS di Kalangan Persaudaraan Imam Masjid Se-Jabodetabek di Jakarta, pada tanggal 07 Agustus 2015.

 

 

Baca juga

Kajian Tafsir PW IPIM DKI Jakarta

Jakarta, 11 Juni 2018 Ramadhan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan bagi setiap muslim dimanapun …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *