Home / Artikel Islam / PERAN MASJID DALAM MEMBINA UMMAT

PERAN MASJID DALAM MEMBINA UMMAT

Peran Masjid Dalam Pembinaan Umat[*]

Oleh: Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.**

Ketika Rasulullah saw. berhijrah dari Makkah ke Madinah, pekerjaan yang dilakukan pertama kali di Madinah adalah membangun masjid. Beliau tidak membangun tempat penginapan atau yang lain. Perbuatan Nabi ini memberikan isyarat bahwa masjid memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dalam pembinaan umat. Dan masjid yang dibangun oleh Nabi itu dalam perkembangan selanjutnya tidak hanya dipakai untuk kegiatan ibadah saja seperti shalat berjamaah 5 kali sehari, tetapi juga digunakan untuk kegiatan lain seperti pendidikan, dakwah, amal sosial, dan lain sebagainya. Secara kebahasaan, masjid selalu diartikan dengan tempat untuk bersujud. Konotasi ini menunjuk kepada sebuah bangunan yang selalu dipakai untuk mengerjakan shalat. Namun sesungguhnya, konotasi masjid yang dibangun oleh Rasulullah saw. tidak sebatas sebagai tempat sujud, tapi juga mencakup kegiatan sebagai berikut:

  1. Tempat kegiatan belajar dan mengajar
  2. Tempat penampungan anak-anak (pelajar) yang tidak mampu. Di dalam Masjid Nabawi terdapat tempat khusus yang disebut al-Shuffah yang dipakai sebagai tempat penampungan para pelajar yang tidak mampu. Para pelajar ini yang sehari-hari selalu belajar dari Nabi saw. – di antaranya Sahabat Abu Hurairah—Kemudian lazim disebut Ahl al-Shuffah (penghuni al-Shuffah)
  3. Tempat bermusyawarah (rapat) untuk membicarakan kepentingan umat Islam. Masjid Nabawi bahkan dipakai untuk mengatur strategi perang, misalnya ketika Nabi saw. hendak melakukan perang Uhud.
  4. Tempat menerima tamu. Misalnya ketika Nabi saw. menerima rombongan tamu orang-orang Nashrani dari Najran. Mereka diterima beliau di masjid. Begitu pula tamu-tamu yang lain.

Berfungsi Sosial

Apabila demikian halnya, maka Nabi saw. telah memberikan contoh bahwa masjid bukanlah semata-mata tempat untuk ibadah dalam pengertian sempit, seperti shalat, i’tikaf, dan membaca al-Qur’an misalnya, melainkan juga berfungsi sebagai ruang kegiatan belajar dan mengajar, penampungan para pelajar yang miskin, dan lain-lain. Karenanya, mengkonotasikan masjid sebagai tempat ibadah seperti di atas adalah sangat tidak tepat.

Memang, perkembangan zaman telah menuntut beberapa fungsi masjid kemudian diambil alih oleh bangunan-bangunan lain. Misalnya, karena banyaknya jumlah murid yang belajar di masjid telah menuntut dibangunnya lokal-lokal baru yang terpisah secara fisik dari bangunan masjid. Bangunan-bangunan ini kemudian juga terpisah secara idarah (administrasi) dari masjid, dan kemudian lazim disebut madrasah. Begitu pula fungsi masjid sebagai tempat penampungan murid-murid yang tidak mampu.

Karenanya, konotasi masjid kini perlu dikembangkan menjadi tempat ibadah (dalam pengertian sempit), bangunan madrasah, tempat penampungan, rumah sakit, dan tempat-tempat sosial lainnya. Jadi Hadis tentang anjuran membangun masjid perlu diartikan menjadi, “Siapa yang membangun masjid (tempat ibadah, madrasah, balai musyawarah rakyat, tempat penampungan sosial, rumah sakit, dan lain-lain) dengan mengharap rida Allah swt., maka Allah akan membangunkan rumah baginya di surga.”

Membangun Orang Bersujud

Pendekatan tekstual dalam memahami maksud Hadis membangun masjid ini telah menyebabkan seseorang terjebak dalam suatu anggapan bahwa membangun masjid secara fisik adalah perbuatan yang sangat afdhal dibanding dengan yang lain. Ia lupa bahwa sesungguhnya yang lebih afdhal justru membangun orang yang akan menggunakan masjid itu, yaitu orang-orang yang bersujud kepada Allah di masjid. Apa artinya banyak bangunan-bangunan masjid tetapi sepi dari orang-orang yang bersujud di dalamnya. Dan  membangun orang-orang bersujud dalam konteks masa kini adalah membangun tempat-tampat belajar dan sejenisnya.

Masjid Quba dan Masjid Nabawi di Madinah sering dijadikan alasan oleh sementara orang bahwa membangun masyarakat Islam harus diawali dahulu dengan membangun masjid. Tampaknya mereka lupa bahwa sebelum membangun masjid-masjid itu, Nabi telah membangun manusia-manusia yang mau bersujud terlebih dahulu selama tidak kurang dari dua belas tahun di Makkah. Merekalah yang kemudian bersama Nabi saw. hijrah ke Madinah yang kemudian lazim disbeut sebagai para Sahabat Muhajirin. Mereka pula sebenarnya yang menjadi kekuatan dan sumber daya dalam masayrakat Islam yang dibangun Nabi saw. Jadi bukanlah bangun masjid, meskipun hal ini juga penting. Dan ternyata membangun manusia yang bersujud itu jauh lebih sulit dan memerlukan waktu yang lama daripada membangun masjid.

Berbicara tentang masjid tidak dapat terlepas dari pembicaraan tentang imam masjid karena masjid tidak akan memiliki peran dan fungsi yang maksimal tanpa adanya imam masjid. Oleh karena itu, peran imam sebagai sumber daya manusia (human resouces) untuk membina umat sungguh lebih utama daripada peran masjid itu sendiri. Masjid Nabawi yang dibangun oleh Rasulullah saw. setelah beliau hijrah dan menetap di Madinah, tidak memiliki peran dan fungsi yang maksimal tanpa adanya imam masjid itu sendiri, yaitu Rasulullah saw. Masjid adalah tempat pembinaan umat, sedangkan imam adalah orang yang membina umat.

Dalam konteks kekinian, umat Islam menghadapi ujian-ujian dan cabaran-cabaran yang mengancam akidah dan eksistensi mereka. Ujian-ujian dan cabaran-cabaran itu bersumber dari paham-paham yang bertentangan dengan Islam kendati mereka menyebut dirinya Islam. Saat ini, ada empat paham yang eksis di dunia Islam, yaitu Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni), Syi’ah, Khawarij, dan Mu’tazilah. Dari empat paham ini, satu-satunya paham yang dapat menjaga akidah umat Islam dan eksistensi mereka sesuai dengan yang disabdakan Rasulullah saw. sebagai al-Millah al-Najiyah (yaitu ma ‘alayhi ana wa ashhabi, cara beragama yang dianut oleh Nabi saw. dan para sahabatnya) adalah paham Ahlus Sunnah wal Jamaah atau paham Sunni.

Imam masjid adalah orang yang selalu berhadapan langsung dengan para jamaah, sekurang-kurangnya lima kali dalam satu hari. Oleh karena itu, imam masjid perlu mengetahui siapa saudara kita, siapa teman, dan siapa lawan kita. Sehingga dengan demikian, masjid bersama imam masjid dapat memainkan perannya secara maksimal dalam membina umat, menjaga akidah dan eksistensi mereka. Semoga Allah swt. memberikan taufikNya kepada kita semua.

 

[*] Kertas kerja dibentangkan dalam Seminar Peran Masjid University Malaya Kuala Lumpur Malaysia 15 september 2015

** Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) di Indonesia

Baca juga

Keutamaan Seorang Muadzin

Azan adalah sebuah ibadah. Tanpa kumandang azan, masjid sepi dari jemaah. Dengan azan, seseorang yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *